Dari hari selasa lalu, 29 Oktober 2008 aku berada di Palu. Rencananya mungkin sekitar 2-3 hari. Namun karena pekerjaan belum selesai akhirnya baru kemarin bisa pulang. Alhamdulillah Palu memberikan suasana menyenangkan. Bahkan Pasha Ungu dan Fadli-nya Padi katanya juga berasal dari Palu.

Pertama kali melihat suasana pesawat hendak mendarat ngeri juga. Bandaranya dikelilingi gunung. Tapi semoga tidak ada masalah yang berarti. Alhamdulillah bisa mendarat dengan selamat. Seminggu berada disana memberikan ketenangan ternyata. Tidak banyak telepon masuk, tidak banyak yang kirim-kirim email, tidak banyak sms, serasa kerja menjadi tenang. Dan mungkin yang lebih menyenangkan lagi ternyata banyak orang pendatang (rasis ya?). Sehingga komunikasi dengan bahasa jawa sedemikian mudahnya..

Sebelum pulang, nanya dulu sama teman-teman disana. Oleh-oleh yang khas Palu apa. Jawabnya: bawang goreng dan abon. Jadi berpikir, sedemikian uniknya kah sehingga bawang goreng saja menjadi khas Palu. Apakah ada rasa stroberi atau durian atau cokelat pada bawang gorengnya?

Setelah berputar-putar, ternyata memang bawangnya unik. Bawang merahnya tidak berkumpul menjadi satu kumpulan dan terdiri dari beberapa siung gitu. Satu batang ya satu siung. Gitu penjelasan ibu Sri, pemilik toko Sri Rejeki. Beliau sendiri asli Jogja dan sudah 26 tahun berada di Palu. Akhirnya belilah 3 bungkus bawang goreng yang isinya 200gram. Per bungkusnya harganya 32.000 rupiah.

Untuk abon ternyata memang ada yang unik. Ada abon ikan. Hohoho… ini belum pernah dicoba..






Iklan